fbpx
Pengaruh Ukuran Payudara bagi Produksi ASI

Pengaruh Ukuran Payudara bagi Produksi ASI

Apakah Ukuran Payudara Mempengaruhi Produksi ASI?

Photo by Jan Kaluza on Unsplash

Payudara adalah tempat untuk memproduksi ASI selama menyusui. Tidak jauh berbeda dengan puting, payudara juga memiliki ukuran yang berbeda. Ukuran payudara ini seringkali menjadi tolak ukur produksi ASI. Oleh karena itu, terkadang juga muncul pertanyaan, “Apakah ukuran payudara memengaruhi produksi ASI?” Tidak sedikit juga ibu menyusui yang beranggapan bahwa semakin besar ukuran payudara, maka peluang untuk memproduksi ASI lebih besar dibandingkan dengan ukuran payudara yang kecil. Jika payudara nya kecil, ibu menyusui seringkali khawatir tidak mampu memberikan ASI Eksklusif untuk Si Kecil, padahal besar kecilnya payudara tidak memengaruhi produksi ASI.

Memang benar, pada kenyataanya ukuran payudara tidak memengaruhi produksi ASI. Karena ukuran payudara ditentukan oleh jaringan lemak yang ada di dalamnya dan tidak memengaruhi produksi ASI. Oleh karena itu, bunda tidak perlu khawatir dan tidak perlu juga untuk mempermasalahkan ukuran payudara. Selain itu, persediaan ASI juga tergantung dari kemampuan bunda untuk memproduksi ASI yang cukup. Salah satu cara untuk memproduksi ASI adalah rutin menyusui dan memompa ASI. Dengan begitu kelenjar susu akan terus merangsang tubuh bunda untuk memproduksi ASI dan merangsang saluran-saluran untuk membawa ASI keluar dari payudara.

 

Daripada bunda pusing memikirkan ukuran payudara, ada banyak hal yang harus lebih bunda perhatikan, diantaranya seperti dikutip dari laman hellosehat.com:

  1. Kehamilan dapat merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI

Salah satu tanda-tanda hamil adalah ukuran payudara yang membesar dan terasa nyeri. Ukuran payudara yang membesar tersebut terjadi karena hormon-hormon kehamilan bunda sedang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Selain itu, warna areola yang menggelap serta adanya pertumbuhan jaringan lemak di payudara yang bertambah juga merupakan salah satu tanda positif bahwa bunda siap untuk menyusui.

  1. Ukuran payudara dapat mencerminkan kapasitas penyimpanan ASI

Pada dasarnya ukuran payudara tidak menjadi masalah, hanya saja terdapat perbedaan frekuensi antara ibu dengan payudara besar dan ibu dengan payudara kecil. Ibu dengan payudara besar memiliki kapasitas penyimpanan ASI yang lebih besar, oleh karena itu tidak perlu menyusui sesering mungkin. Berbeda dengan ibu yang memiliki payudara kecil. Ibu dengan payudara kecil memiliki kapasitas ASI yang lebih kecil. Oleh karena itu, frekuensi menyusui harus lebih sering agar nutrisi Si Kecil dapat terpenuhi.

  1. Ukuran payudara tidak menentukan volume ASI

Volume ASI tidak dipengaruhi oleh ukuran payudara, melainkan volume ASI dipengaruhi oleh banyaknya kelenjar susu. Kelenjar susu tersebutlah yang memiliki fungsi untuk memproduksi ASI. Bahkan ibu dengan payudara kecil dapat lebih banyak memiliki kelenjar susu dibandingkan ibu dengan payudara besar. Hal ini dapat disebabkan karena semakin besar payudara, umumnya semakin banyak pula jaringan lemaknya.

  1. Gaya hidup bisa memengaruhi produksi ASI

Tidak ada keterkaitan antara ukuran payudara dengan produksi ASI. Namun, yang dapat memengaruhi produksi ASI adalah gaya hidup bunda sendiri. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan, seperti kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol, mengkonsumsi narkotika, terlalu banyak mengkonsumsi kafein, minum pil KB, terlalu stress atau bahkan yang sering tidak disadari adalah pola makan yang  kurang teratur. Maka dari itu bunda dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan sehat selama menyusui.

            5.   Menyusui mampu memberikan manfaat

ASI adalah cairan yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Oleh karena itu ASI ini memiliki banyak manfaat untuk tumbuh kembang Si Kecil dan juga memberi manfaat kepada ibu menyusui. ASI mampu memberikan perlindungan dari mikroba dan mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kesehatan ibu menyusui juga semakin meningkat. Bunda dapat terhindar dari penyakit kanker payudara dan ovarium, serta meningkatkan kesehatan kardiovaskular. 

Faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI

Produksi ASI tidak dipengaruhi oleh ukuran payudara, seperti yang sudah kita bahas tadi. Namun, produksi ASI dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini, dikutip dari laman sarihusada.co.id  beberapa diantaranya:

  1. Adanya perubahan hormon
  2. Asupan makanan
  3. Kondisi psikis
  4. Perawatan payudara
  5. Frekuensi bayi menyusu
  6. Pelekatan yang kurang tepat
  7. Adanya pengaruh obat-obatan
  8. Alat kontrasepsi

Jadi kesimpulannya adalah ukuran payudara tidak memengaruhi produksi ASI, akan tetapi yang memengaruhi produksi ASI salah satunya adalah banyak sedikitnya kelenjar susu yang dimiliki. Semakin banyak kelenjar susu yang dimiliki, maka semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, bunda perlu memerhatikan faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI yang sudah disebutkan diatas. Semoga informasi ini bermanfaat!

Referensi

Artikel Terkait

Apakah Aman Menyusui Saat Berpuasa?

Apakah Aman Menyusui Saat Berpuasa?

Apakah Aman Menyusui Saat Berpuasa? Simak Ulasannya di Sini!

Photo by Christopher Jolly on Unsplash

Sebentar lagi bulan Ramadhan segera tiba. Semua umat muslim bersiap-siap menyambut bulan yang penuh berkah ini dan bersiap-siap untuk menjalankan ibadah puasa. Tidak terkecuali ibu menyusui. Ibu menyusui pun ingin tetap menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang datangnya hanya satu kali dalam setahun ini. Namun rasa was-was seringkali menghampiri, apakah aman menyusui saat puasa?

Saat masa menyusui, tubuh membutuhkan banyak cairan agar bunda tidak dehidrasi. Pasalnya, saat berpuasa tubuh bunda akan kehilangan banyak cairan karena perubahan pola makan dan tidur. Nah, jika bunda sudah dehidrasi hingga pusing, lemas bahkan pingsan ini bisa berbahaya lho bund.

Di saat-saat seperti itulah bunda boleh membatalkan puasa, jika memang dirasa sudah tidak kuat apalagi jika bunda sampai sakit. Namun, jika bunda tidak mengalami hal-hal tertentu, maka tidak mengapa jika bunda tetap berpuasa. Puasa tidak akan mempengaruhi produksi ASI. Hanya saja, jika bunda mengalami penurunan berat badan, hal ini akan mempengaruhi kandungan lemak dalam ASI, bukan jumlahnya.

Photo by Jess Bailey on Unsplash

Tips Menyusui Saat Puasa

Jika bunda ingin tetap menjalankan ibadah puasa dan tetap menyusui Si Kecil, bunda perlu simak tips menyusui saat puasa di bawah ini, dikutip dari laman alodokter.com:

  1. Perhatikan asupan saat sahur

Untuk menjalankan ibadah puasa hampir sehari penuh, bunda perlu mencukupi asupan nutrisi saat sahur. Karena asupan nutrisi dari makanan dan cairan yang dikonsumsi saat sahur adalah cadangan nutrisi selama menjalankan ibadah puasa. Untuk itu bunda perlu memerhatikan apa saja yang perlu bunda konsumsi saat sahur. Ada beberapa makanan yang disarankan untuk ibu menyusui saat berpuasa, seperti brokoli, bayam, katuk, telur, ikan salmon, daging tanpa lemak, dan kacang merah.

  1. Cegah dehidrasi

Dehidrasi memang kerap dialami oleh bunda yang sedang dalam masa menyusui. Dehidrasi saat menyusui ini dapat ditunjukan dengan gejala-gejala seperti, merasa pusing, haus, lemas serta mulut yang kering. Jika bunda mengalami hal ini, maka bunda diperbolehkan untuk membatalkan puasa dengan mengonsumsi cairan untuk merehidrasi tubuh.  Namun, dehidrasi juga dapat dicegah dengan mengonsumsi cairan yang cukup pada waktu sahur dan berbuka puasa.

  1. Persiapan menjalani puasa selagi menyusui

Persiapan untuk menjalani puasa selagi menyusui penting untuk diperhatikan. Puasa saat menyusui juga ada batasan-batasannya. Salah satu contohnya, bunda tidak boleh melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Istirahatkan tubuh bunda dan pastikan bunda berada di tempat yang teduh. Saat sahur dan berbuka konsumsilah makanan sehat yang mengandung banyak potasium, magnesium dan zinc, karena selama bunda berpuasa beberapa kandungan yang ada di dalam ASI tersebut dapat berkurang. Bahkan jika perlu, bunda dapat mencatat makanan dan minuman yang akan bunda konsumsi selama berpuasa. Hal ini dilakukan untuk membantu mengatur nutrisi dan cairan yang bunda konsumsi.

  1. Istirahat yang Cukup

Selama berpuasa, tubuh bunda bisa saja mengalami kekurangan energi, terlebih bunda sedang dalam masa menyusui. Untuk itu, bunda disarankan untuk mengurangi aktivitas yang terlalu berat karena hal ini hanya akan membuat tubuh bunda merasa cepat lelah atau bahkan bunda bisa kekurangan energi. Bunda juga dapat memanfaatkan waktu tidur di siang hari agar dapat menghemat energi.

Itulah beberapa tips yang dapat bunda lakukan di rumah. Poin yang paling penting adalah perhatikan cairan yang bunda konsumsi untuk mencegah dehidrasi. Karena menyusui saat berpuasa akan membuat bunda mengalami dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh. Oleh karena itu, konsumsi cairan yang cukup saat sahur dan berbuka puasa.

Pola Makan Saat Menyusui dan Berpuasa

Di kutip dari laman doktersehat.com, ada pola makan untuk bunda yang sedang berpuasa sekaligus menyusui:

  1. Usahakan untuk makan utama lebih dari 2 kali

Pada umumnya, saat berpuasa orang-orang hanya makan utama pada saat sahur dan berbuka. Berbeda dengan bunda yang sedang dalam masa menyusui, bunda yang sedang menyusui sangat disarankan oleh para ahli untuk mengonsumsi makanan utama setelah shalat tarawih. Bunda juga dianjurkan untuk mengonsumsi camilan yang sehat seperti buah-buahan atau bubur kacang hijau untuk mencukupi asupan gizi saat bunda sedang menyusui.

  1. Pilih makanan yang kaya sumber gizi

Ada banyak makanan yang kaya sumber gizi yang dapat bunda konsumsi, seperti kacang hijau, kacang merah, susu serta buah-buahan seperti alpukat dan lainnya. Jenis makanan seperti ini mengandung kalori yang tinggi yang terbentuk dari gizi yang tepat, yaitu protein dan lemak baik. Namun, jika bunda mengonsumsi makanan yang miskin gizi, seperti camilan kemasan dan minum-minuman manis serta gorengan, hanya akan membuat tubuh bunda merasa kenyang tanpa adanya asupan gizi. Oleh karena itu, bunda harus pandai-pandai memilih makanan yang kaya sumber zat gizi.

  1. Perhatikan asupan cairan

Asupan cairan saat bunda menyusui dan berpuasa sangat penting untuk diperhatikan. Menurut riset, lebih dari 70% komponen ASI adalah cairan yang terbentuk dari air putih sang ibu. Untuk itu bunda perlu mengonsumsi air putih 10-14 gelas dalam sehari. Minum 2 gelas saat berbuka, 4 gelas menjelang dan setelah ibadah tarawih, 2 gelas setelah makan utama setelah tarawih, 2 gelas setelah bangun sahur dan 2 gelas lagi setelah makan sahur. Dengan begitu, asupan cairan bunda akan terpenuhi saat berpuasa.

Jadi kesimpulannya adalah bunda tetap diperbolehkan berpuasa ketika tidak terjadi hal-hal tertentu pada tubuh bunda. Jadi, berpuasa selagi menyusui tetap aman ya bunda. Namun, ada yang harus diingat, perhatikan pola makan bunda dan ikuti tips-tips yang sudah disebutkan di atas. Sekarang bunda tidak perlu khawatir dan merasa was-was lagi ya bun. Jangan lupa sebelum bunda berpuasa, konsultasikan hal ini pada dokter terlebih dahulu.

Referensi

Si Kecil Sulit Menyusu? Waspada Tongue-tie!

Si Kecil Sulit Menyusu? Waspada Tongue-tie!

Si Kecil Sulit Menyusu? Kenali Gejala Tongue-tie di Bawah Ini!

tongue-tie
Photo From Facebook

Apakah Si Kecil sulit menyusu? Saat Si Kecil sulit menyusu dan sering menyusu, tetapi tetap rewel. Barangkali Si Kecil mengalami gangguan lidah yang disebut tongue-tie. Jika Si Kecil sudah mengalami gangguan ini, maka bunda harus segera membawanya ke dokter untuk menangani masalah ini agar pertumbuhan Si Kecil tidak terganggu akibat kesulitan menyusu.

Pengertian Tongue-tie

Tongue-tie adalah gangguan pada lidah bayi yang dapat menyebabkan terbatasnya pergerakan lidah dan mulut. Pada umumnya terjadi karena adanya kelainan bawaan dari lahir akibat terlalu pendeknya frenulum, yaitu jaringan penghubung antara lidah dan dasar mulut paling depan.

Jika  frenulum ini terlalu pendek, maka akan menyebabkan beberapa gangguan atau komplikasi, seperti Si kecil akan sulit untuk  makan, menelan, menyusu atau bahkan berbicara. Seorang anak yang memiliki gangguan ini akan mengalami kesulitan untuk melafalkan beberapa huruf, seperti huruf “R”, “S”, “Z”, “TH”, “D” dan “T” atau biasa disebut dengan cadel.

Selain itu, tongue–tie juga dapat mempengaruhi ibu menyusui. Rasa sakit pada puting payudara juga dapat terjadi akibat Si kecil mengalami kesulitan saat menghisap ASI. Jika gangguan lidah ini tidak memiliki gejala atau tidak menimbulkan masalah yang serius, maka kondisi seperti ini tidak perlu untuk dikhawatirkan. Lalu apa saja gejala tongue-tie ini?

Gejala Tongue-tie

Melansir dari alodokter.com, berikut ini ada gejala-gejala tongue-tie yang mungkin dapat terjadi. Simak ulasannya di bawah ini!

  • Si Kecil memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyusu, namun masih tetap terlihat rewel seperti tidak merasa kenyang-kenyang.
  • Lidah bayi terlihat seperti memiliki lekukan di ujungnya, bahkan seperti membentuk hati.
  • Si Kecil sulit mengangkat atau menggerakkan lidahnya. Hal inilah yang dapat membuat Si kecil kesulitan menyusu karena pelekatan yang kurang tepat.
  • Saat menyusu, Si Kecil mengeluarkan suara mengecap seperti “ckck” .
tongue-tie

Tipe Tongue-tie

Masih dilansir dari alodokter.com, berdasarkan tingkat keparahannya tipe tongue-tie terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

Tipe 1

Frenulumnya begitu tipis dan elastis, serta menempel dari ujung lidah hingga ke tepian puncak gusi.

Tipe 2

Hampir mirip dengan tipe 1, tongue-tie tipe 2, frenulumnya masih sama-sama elastis, namun sudah lebih tebal dibandingkan tipe 1.

Tipe 3

Pada tipe 3, frenulum tebal dan kaku, serta menempel dari bagian tengah lidah hingga ke dasar mulut.

Tipe 4

Pada tipe 4, frenulum terletak di belakang, dekat pangkal lidah, sehingga tidak terlihat dengan jelas.

Setelah bunda memastikan bahwa Si Kecil memiliki tanda-tanda tongue-tie, segeralah bawa Si Kecil ke dokter anak agar ia segera diperiksa. Tipe Tongue-tie juga baru dapat dipastikan melalui pemeriksaan dokter. Dokter akan meraba bagian frenulum untuk mengetahui tongue-tie tipe mana yang dialami oleh Si Kecil.

Cara Menangani Tongue-tie

Untuk menangani tongue-tie ini, para ahli masih mempunyai perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat untuk menunggu lingual frenulum dapat merenggang dengan sendirinya. Ada juga yang berpendapat tongue-tie ini harus segera dilakukan tindakan operasi untuk mengurangi risiko kekurangan nutrisi pada bayi baru lahir. Dikutip dari laman halodoc.com beberapa tindakan operasi yang mungkin dapat dilakukan adalah:

  1. Frenotomy

Prosedur pembelahan tongue-tie ini menggunakan sebuah gunting khusus yang sudah disterilkan. Seorang dokter akan membelah bagian sisi bawah lidah agar tidak terlalu menempel dengan dasar mulut, sehingga lidah dapat bergerak dengan lebih leluasa. Pada umumnya prosedur ini berlangsung lebih cepat, dengan dibius atau tanpa dibius. Selain itu juga jarang terjadi pendarahan besar, komplikasi juga jarang terjadi.

  1. Frenuloplasty

Berbeda dengan prosedur frenotomy. Pada prosedur frenuloplasty biasanya dilakukan pembiusan umum dan menggunakan perlengkapan operasi yang lebih lengkap. Pada prosedur ini akan dilakukan pada lingual frenulum yang lebih tebal, sehingga tidak memungkinkan jika menggunakan prosedur frenotomy. Pasca operasi, pengidap kondisi ini memerlukan sedikit waktu untuk melatih pergerakan lidah untuk membantu mengurangi risiko timbulnya komplikasi.

Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan gejala tongue-tie. Untuk mencegah Si Kecil mengalami kondisi ini, bunda sebaiknya melakukan pemeriksaan prenatal untuk mendeteksi gangguan ini sejak dini. Segera hubungi dokter apabila Si Kecil mengalami komplikasi yang sudah dijelaskan di atas. Penanganan yang tepat dan cepat dapat mengurangi risiko komplikasi yang bisa saja terjadi.

Referensi

Artikel Terkait

Bolehkah Menyusui Saat Terkena Flu?

Bolehkah Menyusui Saat Terkena Flu?

Bolehkah Menyusui Saat Terkena Flu? Ini Jawabannya!

flu menyusui
Gambar oleh Anastasia Gepp dari Pixabay

Menyusui saat terkena flu memang bukan hal yang mudah untuk bunda jalani. Rasa sakit saat terkena flu ini memang terlihat sepele, namun tetap tidak boleh disepelekan ya bund. Flu atau influenza adalah infeksi virus yang dapat  menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Seorang ibu menyusui yang terkena flu akan mengalami demam, sakit kepala, pilek, hidung tersumbat serta batuk.

Saat bunda terkena flu tentu akan merasa ragu untuk menyusui Si Kecil. Merasa was-was takut Si Kecil akan tertular. Padahal menyusui saat terkena flu tetap dapat dilakukan dengan cara yang tepat, justru saat bunda menyusui Si Kecil akan meningkatkan antibodi Si Kecil. Jadi, bolehkah menyusui saat terkena flu? Menyusui saat terkena flu, boleh. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu bunda perhatikan. Karena menyusui saat terkena flu memang mengandung risiko yang cukup besar, bisa saja Si Kecil menjadi tertular dan ikut terkena flu. Namun, bunda tidak perlu khawatir karena di bawah ini ada tips menyusui saat terkena flu yang perlu bunda perhatikan.

Tips Menyusui Saat Terkena Flu

Ada beberapa tips di bawah ini yang dapat bunda lakukan untuk tetap menyusui Si Kecil meskipun saat terkena flu, dilansir dari alodokter.com:

  • Rutin mencuci tangan
  • Gunakan masker
  • Istirahat yang cukup
  • Makan-makanan yang sehat
  • Cukupi kebutuhan cairan disetiap harinya

Bahan Alami untuk Mengatasi Flu

Saat dalam masa menyusui, makanan dan minuman yang bunda konsumsi akan mempengaruhi produksi ASI. Termasuk diantaranya obat-obatan tertentu. Obat-obatan tertentu yang bunda konsumsi saat menyusui dapat mempengaruhi kelancaran ASI atau bahkan merubah rasa ASI itu sendiri. Dampaknya Si Kecil bisa saja menolak ASI dari bunda.

Oleh karena itu, saat bunda sedang dalam kondisi sakit terutama saat terkena flu, bunda jangan terburu-buru untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu, terlebih tanpa anjuran dokter. Berikut ini ada beberapa bahan alami untuk membantu bunda mengatasi flu yang sedang menyerang, dilansir dari popmama.com :

  1. Jahe

    

Jahe sudah dikenal dari zaman dahulu sebagai salah satu bahan alami yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Salah satunya meredakan gejala flu dan pilek. Jahe memiliki sifat antiradang yang kuat. Jahe juga mengandung senyawa gingerol yang diyakini mampu menyembuhkan flu. Bunda dapat mencampurkan jahe dalam satu gelas teh ataupun dibuat wedang jahe.

  1. Madu

Selain jahe, bahan alami selanjutnya yang bermanfaat untuk meredakan flu adalah madu. Madu memiliki kandungan gizi yang optimal dan antioksidan  yang mampu mencegah tubuh terserang infeksi. Madu juga mengandung banyak vitamin seperti vitamin C, D, E, K dan B kompleks serta beta karoten. Bunda dapat minum satu sendok madu secara langsung atau jika perlu tambahkan dengan satu gelas teh

  1. Kaldu hangat

Kaldu hangat adalah salah satu menu makanan yang digemari hampir semua kalangan. Kaldu hangat biasanya terdiri dari berbagai macam sayur-sayuran, daging dan pastinya kuah kaldu yang menghangatkan. Kaldu dapat membuat tenggorokan jauh lebih nyaman dan mampu meredakan gejala flu serta menghangatkan badan.

  1. Buah dan sayuran

Buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung vitamin C seperti jeruk, pepaya, tomat dan apel dapat menjadi salah satu makanan yang dapat bunda konsumsi untuk meredakan flu. Buah dan sayuran yang mengandung vitamin C ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga bunda dapat terhindar dari serangan infeksi dan virus. 

  1. Yoghurt

Yoghurt memiliki kandungan yang istimewa. Yoghurt kaya akan probiotik, zinc dan juga mengandung karbohidrat yang baik bagi tubuh. Yoghurt dapat meningkatkan sistem imun tubuh dan juga dapat sebagai penambah energi ketika sakit. Dengan begitu, secara tidak langsung yoghurt dapat bermanfaat untuk meredakan flu.

Nah itu dia sedikit informasi mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kendala menyusui saat terkena flu. Jadi, menyusui saat terkena flu diperbolehkan ya bun, namun tetap memerhatikan beberapa hal yang sudah disebutkan di atas. Mudah-mudahan informasi ini dapat bermanfaat untuk bunda dan dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika bunda tetap ingin mengonsumsi obat, jangan lupa konsultasikan hal ini ke dokter terlebih dahulu ya bun. Semoga lekas sembuh!

Referensi

Artikel Terkait

Rasa ASI Bisa Berubah? Benarkah?

Rasa ASI Bisa Berubah? Benarkah?

Rasa ASI Bisa Berubah? Benarkah?

Rasa ASI
Photo By Okezone.com

Ternyata rasa ASI bisa berubah, apakah selama ini bunda menyadarinya? Bagi bunda yang seringkali mencicipi ASI bunda sendiri tentu bisa menyadari jika rasa ASI bunda berubah ya. Terkadang perubahan rasa ASI juga bisa dilihat dari warna ASI itu sendiri. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwasannya rasa ASI biasa itu cenderung manis. Rasa ASI yang dihasilkan para ibu menyusui memang cenderung lebih lembut dan lebih manis dibandingkan susu sapi.

Rasa ASI yang cenderung manis ini, ternyata mengandung gula, susu, dan laktosa. Kandungan laktosa pada ASI itulah yang membuat rasa ASI cenderung lebih manis. Laktosa juga merupakan salah satu bahan utama dalam ASI, maka tidak heran rasa ASI itu manis. ASI juga memiliki aroma khas karena dari pengaruh tingkat lipase yang tinggi. Lalu, apa penyebab rasa ASI kemudian bisa berubah?

Penyebab Rasa ASI Bisa Berubah

Rasa ASI berubah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, melansir dari haibunda.com diantara lain yang disebutkan di bawah ini:

  1. Hormon

Perubahan hormon dalam tubuh bunda dari masa kehamilan yang lalu kembali ke hormon menstruasi atau hamil lagi dapat mempengaruhi rasa ASI tersebut. Namun, bunda tidak perlu khawatir karena ASI bunda masih tetap dapat dikonsumsi oleh Si Kecil.

  1. Olahraga

Olahraga adalah salah satu penyebab rasa ASI bisa berubah. Hal ini dikarenakan adanya penumpukan asam laktat dalam tubuh bersamaan dengan rasa asin keringat pada payudara setelah bunda berolahraga. Untuk meminimalisir hal tersebut, bunda dianjurkan untuk melakukan olahraga yang ringan serta jangan lupa membersihkan payudara bunda sebelum menyusui Si Kecil.

  1. Obat-obatan tertentu

Tanpa diduga obat-obatan tertentu pun mampu merubah rasa ASI. Jika bunda sedang rutin minum obat dan bersamaan dengan itu juga Si Kecil tidak mau menyusu, dapat disimpulkan bahwa Si Kecil tidak mau menyusu karena rasa ASI bunda yang berubah. Jika bunda mengkhawatirkan hal ini, segera mungkin konsultasi dengan dokter laktasi bunda.

  1. Mastitis

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang dapat menyebabkan rasa ASI berubah. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan tetap menyusui Si Kecil, meskipun Si Kecil bisa saja menolak pemberian ASI dari bunda.

  1. Pembekuan ASIP

Setelah ASI perah beku di dalam freezer, kemudian dicairkan untuk diminum Si Kecil, seringkali rasa ASI perah ini sudah berubah, seperti ada aroma sabun dan rasa sabun. ASI perah yang sudah dicairkan ini tetap aman dikonsumsi oleh Si Kecil, sebelum ia benar-benar basi. Oleh karena itu, bunda perlu tahu bagaimana cara menghangatkan ASI dengan benar.

  1. Produk perawatan wajah

Produk perawatan wajah, seperti lotion, pelembab, sabun, parfum dan salep yang dioleskan di payudara dapat menambahkan rasa yang berbeda pada saat Si Kecil sedang minum ASI. Untuk mengatasinya , bunda dapat membersikan payudara terlebih dahulu sebelum menyusui Si Kecil.

Itulah 6 penyebab rasa ASI bisa berubah. Kemungkinan ada faktor lain yang dapat menyebabkan rasa ASI berubah, seperti dari pola makan bunda. Jika bunda mengonsumsi makanan sehat selama menyusui, insyaAllah Si Kecil juga akan tumbuh dengan sehat dan optimal. Jika bunda mengalami suatu kendala, jangan sungkan untuk konsultasi ke dokter laktasi ya bun.

Referensi

Artikel Terkait

Waspada Dehidrasi Selagi Bunda Menyusui!

Waspada Dehidrasi Selagi Bunda Menyusui!

Sering Merasa Pusing Saat Menyusui? Waspada Dehidrasi!

Menyusui Dehidrasi
Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels

Saat masa menyusui bunda akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan hambatan, termasuk dalam pemberian ASI kepada Si Kecil. Seperti misalnya, ASI yang keluar terlalu sedikit, ASI begitu encer atau bahkan tidak keluar sama sekali. Padahal ASI Eksklusif memiliki berbagai manfaat untuk tumbuh kembangnya. Tidak hanya itu saja, ternyata dehidrasi saat menyusui juga dapat terjadi pada ibu menyusui.

Dehidrasi saat menyusui dapat dikenali dengan beberapa tanda-tanda, salah satunya sering merasa pusing. Apakah bunda sering merasa pusing saat menyusui Si Kecil? Jika ya, barangkali bunda kurang mengonsumsi cairan. Dehidrasi ini dapat mempengaruhi kesehatan bunda dan Si Kecil, menyebabkan produksi ASI menjadi terhambat dan komposisi ASI bunda pun menjadi berubah.

Oleh karena itu, bunda disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat dan mengonsumsi air putih dalam jumlah yang cukup. Karena pada dasarnya komponen ASI terdiri dari 88%  air. Jika bunda tidak mencukupi kebutuhan cairan setiap harinya, bunda akan mengalami dehidrasi saat menyusui. Lalu sebenarnya apa saja si penyebab dehidrasi saat menyusui?

Penyebab Dehidrasi Saat Menyusui

Melansir dari doktersehat.com, penyebab dehidrasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Kurang asupan cairan

Penyebab utama dari dehidrasi saat menyusui adalah kurangnya asupan cairan dalam tubuh. Saat menyusui, ada baiknya bunda rutin mengonsumsi air putih sehari minimal 8 gelas. Jika bunda sampai lupa, sediakan botol minum atau gelas berisi air agar bunda terhindar dari dehidrasi.

  1. Diare

Diare dapat disebabkan oleh makanan pedas atau kurangnya kebersihan dalam makanan. Jika sudah begini, untuk sementara waktu bunda dianjurkan untuk menghindari makanan pedas. Jika tidak, bunda akan mengalami diare sehingga cairan dan elektrolit dalam tubuh akan berkurang membuat bunda dehidrasi.

  1. Kafein

Saat menyusui, bunda disarankan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi kafein dalam bentuk teh, kopi maupun soda. Karena minuman tersebut dapat mengakibatkan bunda dehidrasi. Jadi untuk mengantisipasinya, hindari minum-minuman yang berkafein selama menyusui, sebagai gantinya bunda dapat mengonsumsi air putih dan buah-buahan yang segar.

  1. Puasa

Puasa saat menyusui juga dapat menyebabkan jumlah cairan dalam tubuh akan terganggu. Untuk mengatasinya, bunda harus minum banyak cairan pada waktu sahur dan pada waktu berbuka untuk mengurangi gejala dehidrasi ini.

Gejala Dehidrasi Saat Menyusui

Dilansir dari theasianparent.com, ada beberapa gejala dehidrasi saat menyusui yang perlu bunda waspadai:

  • Sakit kepala
  • Mual
  • Bibir dan mulut terasa kering
  • Penurunan produksi ASI
  • Pusing
  • Kram otot
  • Kelelahan

Jika bunda sudah terlanjur mengalami kondisi di atas, maka tindakan utamanya yaitu memperbanyak minum air putih. Namun, jika belum dapat diatasi, bunda bisa mencoba minum larutan elektrolit. Jika sudah terlalu parah, maka bunda perlu konsultasikan hal ini pada dokter untuk diberikan cairan intravena.

Cara Mencegah Dehidrasi

Untuk mencegah dehidrasi, bunda dapat memperbaiki asupan cairan dalam tubuh dengan rutin minum air putih. Bahkan jika pelu bunda dapat membuat jadwal minum air yang teratur setiap harinya, seperti setelah bangun tidur, setelah makan atau setiap 4 jam sekali. Jika bunda sampai terkena diare, pastikan minum cairan dalam jumlah banyak, khususnya cairan elektrolit.

Referensi

Artikel Terkait

Inilah 7 Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui

Inilah 7 Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui

Inilah 7 Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui

makanan sehat menyusui
Photo from pexels

Makanan sehat untuk ibu menyusui perlu untuk diperhatikan. Makanan sehat diperlukan oleh ibu menyusui agar ASI yang diproduksi juga lancar dan bernutrisi tinggi. Memberikan ASI kepada Si Kecil adalah salah satu pilihan tepat untuk Ibu menyusui. Karena Si Kecil yang masih berusia kurang dari 6 bulan, hanya diperbolehkan mengonsumsi ASI dan belum diperbolehkan mengonsumsi apapun selain ASI.

Oleh karena itu, bunda perlu membutuhkan berbagai makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi sehari-hari. Mengingat bunda juga sedang menyusui, maka bunda tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan secara sembarangan. Maka dari itu, bunda perlu menghindari beberapa makanan saat menyusui, seperti alkohol, kafein serta makan-makanan yang mengandung kolestrol yang tinggi. Lalu makanan sehat apa saja yang diperlukan oleh ibu menyusui?

Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui

Melansir dari doktersehat.com, makanan sehat berikut ini dapat menjadi acuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari:

  1. Beras Merah

Apakah bunda belum terbiasa mengonsumsi beras merah dalam kehidupan sehari-hari? Nah, waktu yang tepat untuk bunda mulai mengonsumsi beras merah ini saat menyusui. Beras merah mengandung kalori yang baik untuk meningkatkan kualitas ASI ibu menyusui. Beras merah juga memiliki manfaat lain yaitu untuk menurunkan kolesterol jahat, sehingga bunda dan Si Kecil dapat tetap sehat dan bugar.

  1. Wortel

Apakah bunda menyukai wortel? Wortel memiliki kandungan provitamin A, yaitu beta-karoten yang dibutuhkan oleh tubuh. Wortel berguna untuk meningkatkan produksi ASI dan membantu memenuhi kebutuhan vitamin A pada ibu menyusui. Wortel dapat dikonsumsi dengan cara dijus, dicampur dalam sayur sop atau bahkan dimakan secara langsung sebagai cemilan.

  1. Bayam

Bayam adalah salah satu makanan andalan sejak masa kehamilan. Bayam mengandung berbagai macam nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti zat besi, kalsium, asam folat dan berbagai macam vitamin serta mineral lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh. Selama masa menyusui, bunda disarankan untuk rutin mengonsumsi sayur-sayuran, salah satunya bayam ini untuk menjaga stamina tubuh.

  1. Ubi

Ubi adalah salah satu makanan sehat yang perlu bunda konsumsi selama masa menyusui. Ubi mengandung vitamin A yang akan membantu memperbaiki serta melindungi sel-sel atau jaringan pada mata Si Kecil. Selain itu, ubi juga mengandung serat yang baik untuk pencernaan dan termasuk makanan yang mengandung rendah lemak, sehingga baik untuk kesehatan.

  1. Buah Alpukat

Buah alpukat mengandung lemak sehat hingga 80%. Buah alpukat ini akan membantu ibu menyusui untuk meningkatkan tenaga dan membantu mempertahankan rasa kenyang. Mengingat ibu menyusui membutuhkan banyak tenaga dan tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan makanan. Buah alpukat ini dapat menjadi makanan sehat yang direkomendasikan untuk ibu menyusui karena mengandung berbagai sumber vitamin, seperti vitamin B, vitamin K, folat, kalium, vitamin C dan vitamin E.

  1. Blueberry

Saat masa menyusui, bunda dianjurkan untuk rutin mengonsumsi jus atau buah-buahan. Salah satunya adalah buah blueberry. Jus buah blueberry dapat menjadi pilihan tepat untuk bunda yang ingin mengonsumsi makanan sehat, namun tetap lezat. Blueberry mengandung vitamin dan mineral yang tinggi serta mengandung karbohidrat yang cukup untuk menjaga energi tubuh bunda tetap dalam kondisi baik.

  1. Buah Jeruk

Buah jeruk dikenal sebagai makanan yang banyak mengandung vitamin C. Saat menyusui, seorang ibu membutuhkan lebih banyak vitamin C dibandingkan dengan ibu hamil. Asupan nutrisi dalam buah jeruk berguna ntuk meningkatkan energi ibu menyusui, sehingga tubuh bunda akan jauh lebih berstamina.

Itulah beberapa makanan yang direkomendasikan untuk ibu menyusui. Semua makanan di atas harus bunda konsumsi secara rutin dan teratur, agar produksi ASI menjadi jauh lebih lancar dan berkualitas.

Referensi

Artikel Terkait

Strategi Terbaik Menyusui Bayi Prematur

Strategi Terbaik Menyusui Bayi Prematur

Strategi Terbaik Menyusui Bayi Prematur

bayi prematur
Photo by Renata Angerami from Pexels

Bagi sebagian bunda yang baru saja melahirkan bayi prematur, tentu sedikit mengalami kesulitan dalam pemberian ASI, terlebih bunda baru pertama kali menyusui. Menyusui bayi prematur memang tidak semudah ketika menyusui bayi yang cukup bulan (matur). Hal ini dapat terjadi karena bayi yang lahir prematur, fungsi organ tubuhnya belum berfungsi secara sempurna dan berat badannya juga masih cukup rendah. Bahkan, bayi prematur seringkali masih memerlukan perawatan intensif di ruangan khusus. Oleh karena itu, bunda harus banyak-banyak bersabar ketika mengalami hambatan tersebut.

Tidak dapat dipungkiri lagi, ASI adalah satu-satunya makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir. Terlebih bagi bayi yang baru lahir secara prematur. World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif sekurang-kurangnya hingga usia bayi menginjak 6 bulan pertama. Rekomendasi serupa juga didukung oleh American Academy of Pediatrics(AAP), Academy of Breastfeeding Medicine, demikian pula oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Pengertian Bayi Prematur

Bayi prematur yaitu bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Sehubungan dengan hal tersebut, bayi dapat dikelompokan berdasarkan berat lahirnya, seperti berikut ini:

  • Bayi berat lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir kurang dari 2500 gram
  • Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), yaitu berat lahir 100 hingga 1500 gram
  • Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), yaitu berat lahir kurang dari 1000 gram.

Berkaitan dengan berat lahir dan usia kehamilan, terdapat kekhususan ketika menyusui bayi prematur. Hal tersebut juga masih berkaitan dengan kematangan perkembangan fungsi oral-motor pada bayi prematur.

bayi prematur
Photo by Picsea on Unsplash

Perkembangan Fungsi Oral-Motor

Melansir dari idai.or.id, keterampilan oral-motor bayi prematur dibagi ke dalam 4 fase, diantaranya:

  1. Berkembangnya refleks menghisap
  2. Kematangan proses menelan
  3. Kematangan fungsi pernapasan
  4. Koordinasi gerakan menghisap, menelan, dan bernapas

Terkait dengan komponen refleks menghisap, sebenarnya sudah ada sejak kehamilan 28 minggu, namun kemampuan bayi untuk menghisap diusia 28 minggu ini masih belum teratur, bayi juga masih mudah mengalami kelelahan. Ketika usia kehamilan sudah menginjak 32-36 minggu, proses pematangan sudah jauh lebih baik, mekanisme juga sudah jauh lebih teratur. Lalu bagaimana komposisi ASI dari ibu yang melahirkan prematur?

Komposisi ASI Ibu yang Melahirkan Prematur

Komposisi ASI dari ibu yang melahirkan prematur, tentu berbeda dengan komposisi ASI dari ibu yang melahiran matur. Hal ini disebabkan karena komposisi ASI senantiasa berubah untuk memenuhi kebutuhan bayi yang baru lahir. Seperti halnya dengan kandungan gizi ASI bayi prematur lebih tinggi dibandingkan  dengan kandungan gizi ASI bayi matur (cukup bulan). Sehingga pertumbuhan bayi yang prematur pada awalnya cukup baik.

Komposisi ASI bayi prematur mengandung lebih banyak sistein, taurin, lipase yang meningkatkan absorbsi lemak, asam lemak tak jenuh rantai panjang, nukleotida dan gangliosida. Selain itu, komposisi ASI bayi prematur juga memiliki bioavailabilitas yang lebih besar terhadap beberapa jenis elemen mineral.

Sehubungan dengan hal tersebut, komposisi ASI bayi prematur akan berubah menjadi komposisi ASI bayi matur dalam jangka waktu 3-4 minggu. Komposisi ASI senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan Si Kecil.  Oleh karena itu, bagi bunda yang baru saja melahirkan bayi prematur, tidak perlu mengkhawatirkan komposisi ASI itu sendiri.

Cara Tepat Menyusui Bayi Prematur

Menyusui bayi prematur sangat penting untuk diperhatikan, mengingat bayi prematur belum memiliki fungsi organ tubuh yang maksimal dan juga berat badannya masih tergolong rendah. Maka dari itu, usahakan tetap memberikan ASI Ekslusif untuk Si Kecil, agar ia dapat tumbuh dengan sehat dan optimal layaknya bayi lainnya.

Di bawah ini ada beberapa cara tepat untuk menyusui bayi prematur, melansir dari hellosehat.com:

  1. Menerapkan teknik Kangaroo Mother Care (KMC)

Teknik kangaroo mother care dapat dilakukan dengan cara memasukkan bayi ke dalam baju ibu dan diletakkan tepat di bagian dada, sehingga kulit ibu langsung bersentuhan dengan bayi. Untuk menerapkan teknik ini, sebaiknya bayi tidak memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya. Jangan lupa untuk menggunakan kain pengikat atau kain panjang sehingga bayi tidak jatuh saat bunda bergerak.

Teknik ini memiliki manfaat, seperti menguatkan ikatan ibu dengan bayi, mengontrol suhu bayi, mengurangi risiko infeksi dan yang paling penting bayi dapat menyusui secara langsung sehingga dapat meningkatkan produksi ASI.

  1. Prematur dengan alat bantu

Jika keadaan tidak memungkinkan untuk bunda menyusui secara langsung, ada alat bantu yang akan membantu bunda untuk tetap memberikan ASI Eksklusif kepada Si Kecil. Seperti sebuah selang yang dipasangkan pada mulut dan hidung bayi yang akan mengalirkan ASI ke dalam tubuh bayi. Selain itu, juga ada selang laktasi. Selang laktasi ini akan membantu menghubungkan bayi bunda dan puting susu yang mengeluarkan ASI.

  1. Memompa ASI lebih awal dengan rutin

Sudah tidak diragukan lagi, bahwasannya memompa ASI adalah salah satu cara untuk meningkatkan produksi ASI. Memompa ASI juga salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyusui bayi prematur. Disarankan untuk memompa ASI setelah 6 jam persalinan. Bunda juga perlu memompa ASI setiap 2 sampai 3 jam sekali di siang hari dan setiap 3 sampai 4 jam sekali di malam hari.

  1. Posisi duduk untuk menyusui di rumah

Posisi menyusui bayi prematur tentu berbeda dengan posisi menyusui bayi normal. Bayi prematur lebih mudah mengantuk saat menyusui. Oleh karena itu, agar bayi tetap terjaga, cobalah posisi menyusui dengan mendudukan bayi pada pangkuan bunda, bukan menggendongnya. Gunakan salah satu tangan bunda untuk menopang erat bagian kepala dan bahu bayi. Sehingga bayi akan tetap aman dalam pangkuan bunda.

Nah, itu dia beberapa strategi untuk menyusui bayi prematur. Meskipun bunda mengalami beberapa hambatan, bunda harus tetap berusaha menyusui Si Kecil, karena peran ASI ini sangat penting untuk tumbuh kembang Si Kecil. Bunda juga dianjurkan untuk mengonsumsi makan-makanan sehat selama menyusui dan hindari beberapa makanan saat menyusui yang tidak baik bagi kesehatan bunda.

Referensi

Artikel Terkait

Breast Pad,  Solusi untuk ASI yang Merembes

Breast Pad, Solusi untuk ASI yang Merembes

Breast Pad, Solusi untuk ASI yang Merembes

Photo from http://summerglitz.com.my/

ASI sering merembes dapat terjadi karena adanya let-down reflex, yaitu refleks keluarnya ASI, padahal bunda sedang tidak menyusui dan juga sedang tidak memompa ASI. Ada kalanya hal ini akan merepotkan bunda, terlebih saat bunda sedang beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, ASI yang merembes juga dapat membuat bunda kurang percaya diri. Di saat-saat seperti ini, breast pad solusinya!

Breast Pad

Breast Pad adalah salah satu solusi yang sangat praktis untuk mencegah ASI yang sering merembes. Breast pad ini juga sangat cocok  jika dipakai saat keluar rumah, maupun saat pergi ke kantor. Tidak memungkinkan juga bagi bunda untuk memompa ASI dan menyusui Si Kecil. Kabar baiknya, breast pad ini sudah banyak ditemukan dipasaran dengan berbagai macam merek dan harga.

Jenis Breast Pad

Secara umum, terdapat dua jenis breast pad, yaitu yang sekali pakai (disposable) dan yang bisa dipakai berulang (washable). Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing seperti yang sudah dirangkum di bawah ini:

Disposable: Sangat praktis, teksturnya juga sangat lembut, dapat dipakai kapan saja. Namun, ukurannya cenderung tipis, kadang melipat sendiri, tidak menutup puting dengan sempurna, perekatannya kurang maksimal dan tentu jauh lebih boros dalam hal biaya.

Washable: Terbuat dari kain, teksturnya juga lembut, bisa dicuci dan dipakai lagi, jauh lebih hemat. Namun, breast pad sekali pakai ini harus dicuci hingga benar-benar bersih karena jika tidak, breast pad akan menimbulkan bau yang kurang sedap. Pastikan juga sudah dalam kondisi kering jika ingin memakainya kembali.

Photo from https://momlovesbest.com/

Cara Memilih Breast Pad dengan Tepat

Melansir dari haibunda.com, bunda harus pandai-pandai dalam memilih breast pad yang tepat, sebaiknya juga disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Poin-poin dibawah ini dapat menjadi bahan acuan untuk bunda agar dapat memilih breast pad dengan tepat:

  1. Periksa bahan breast pad

Penting untuk diketahui, bahwasannya salah satu cara memilih breast pad dengan tepat adalah dengan memeriksa bahan breast pad tersebut. Apakah bahannya lembut atau kasar, breast pad dengan bahan yang lembut lebih disarankan agar dapat memberi kenyamanan lebih saat memakainya.

 

  1. Pilih bantalan dengan pelindung anti bocor

Seringkali, kain bantalan tidak dapat menghentikan kebocoran ASI dengan maksimal. Untuk itu, bunda perlu memilih bantalan dengan pelindung anti bocor  agar dapat menghentikan kebocoran ASI dengan maksimal. Biasanya, produk ini memiliki lapisan air yang dilaminasi pada dinding bagian dalam. Lapisan air ini akan menjaga kelembaban di bagian dalam dan menghentikan ASI yang merembes keluar.

 

  1. Kapasitas menyerap

Sebelum memutuskan untuk membeli breast pad , ada baiknya bunda memilih bahan dengan bantalan yang lembut yang terdapat lapisan bambu di dalamnya. Bahan tersebut memiliki kualitas penyerapan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bahan kapas. Sementara itu, tidak disarankan untuk menggunakan breast pad dari bahan plastik karena dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dan rasa sakit pada puting.

Manfaat Breast pad

Bagi bunda yang sedang dalam masa menyusui, terlebih baru pertama kali menyusui, breast pad sangat penting untuk digunakan. Menggunakan breast pad adalah salah satu langkah terbaik bagi bunda yang mengalami masalah ASI merembes. Breast pad dapat membantu bunda untuk tetap tampil cantik selama menyusui, mempertahankan tingkat percaya diri dan tentunya menjaga kenyamanan saat melakukan suatu kegiatan.

Breast pad adalah lapisan yang terbuat dari kain waterproof di bagian luar, sehingga dapat mencegah ASI merembes keluar. Bagi bunda yang memiliki aktivitas rutin seperti bekerja dikantor, sekarang bunda tidak perlu khawatir dan juga tidak perlu repot untuk membawa baju ganti, karena sudah ada langkah praktis yang dapat dilakukan. Cara menggunakan breast pad ini pun cukup mudah, hanya dengan menyelipkan breast pad diantara bra, sehingga ASI yang merembes dapat tertahan di breast pad. Jika rembesan ASI benar-benar deras, bunda hanya perlu mengganti breast pad, tanpa perlu mengganti pakaian.

Nah, itu dia beberapa informasi terkait dengan breast pad yang perlu bunda ketahui. Breast pad telah menjadi salah satu kebutuhan bagi ibu menyusui yang sudah harus tersedia, terlebih bagi bunda yang memiliki permasalahan ASI merembes. Untuk jenis breast pad sendiri, dapat bunda pilih sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Referensi

Artikel Terkait

ASI Merembes Tanda Bunda Alami Let-Down Reflex

ASI Merembes Tanda Bunda Alami Let-Down Reflex

ASI Merembes Tanda Bunda Alami LDR (Let-Down Reflex)

Photo from www.floridatoday.com

ASI merembes tanda LDR? LDR itu apa sih? LDR yang dimaksud disini bukan Long Distance Relationship ya bun, tetapi Let-down reflex. Nah, apakah yang dimaksud dengan Let-down reflex saat menyusui? Simak ulasannya berikut ini!

Pengertian Let-down reflex (LDR)

Let-down reflex (LDR) adalah refleks keluarnya ASI dari payudara. Refleks keluarnya ASI ini dapat terjadi dalam keadaan bunda sedang tidak menyusui dan juga tidak sedang melakukan pumping, jadi ASI merembes keluar begitu saja. Perlu untuk bunda ketahui, breast pad dapat menjadi salah satu solusi untuk ASI yang merembes. Dari laman hellosehat.com diungkapkan bahwa, “Let-down reflex dimulai dari isapan bayi pada payudara bunda. Isapan bayi ini kemudian merangsang saraf-saraf yang ada pada puting bunda. Saraf-saraf ini kemudian menyebabkan hormon prolaktin dan oksitosin dilepaskan ke aliran darah ibu. Hormon prolaktin bereaksi terhadap jaringan penghasil ASI  di payudara. Sedangkan, hormon oksitosin berfungsi untuk mendorong otot-otot kecil di sekitar sel penghasil ASI untuk berkontraksi. Kontraksi ini menyebabkan payudara mendorong ASI keluar (let-down).

Hal ini mengakibatkan baju bunda basah karena ASI yang merembes. Terkadang hal ini juga mengakibatkan bunda kurang merasa percaya diri. Namun, bunda tidak perlu terlalu khawatir. ASI yang refleks keluar ini masih bisa bunda atasi dengan cara pumping, lalu kemudian ditampung dalam sebuah wadah.

Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Bagaimana cara mengenali LDR?

Dilansir dari klikdokter. com, LDR dapat dikenali dengan cara memerhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Sensasi geli
  • Payudara terasa penuh dan kencang
  • ASI tiba-tiba menetes dari payudara yang tidak sedang dipompa
  • Perubahan pola hisapan bayi

Hal-hal apa saja yang dapat memicu LDR?

Berikut ini ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya LDR:

  1. Berpikir positif

Berpikirlah positif, karena jika bunda terlalu cemas memikirkan jumlah produksi ASI justru akan membuat produksi ASI bunda berkurang. Bersyukurlah berapapun ASI yang dihasilkan dan tetap optimis.

  1. Rileks

Membuat badan jauh lebih rileks akan membantu melancarkan produksi ASI. Mandi air hangat,mengompres payudara dengan air hangat atau hanya sekedar mengatur pola pernapasan agar jauh lebih rileks. Hal ini akan membantu merangsang produksi ASI.

  1. Lebih sering melakukan pumping

Bagi sebagian bunda, pumping adalah salah satu hal yang cukup mudah dilakukan . Terlebih jika sering memompa 2-3 jam sekali, LDR akan lebih mudah dicapai.

  1. Dukungan

Dukungan dari orang-orang sekitar, terutama suami dalam bentuk pijatan dibahu dan punggung, secara tidak langsung akan dapat membantu tubuh bunda jauh lebih rileks. Karena memang dukungan dari suami yang dibutuhkan saat menyusui.

  1. Pijat payudara dengan lembut

Sebelum menyusui Si Kecil, ada baiknya bunda untuk menyempatkan waktu untuk memijat payudara dengan lembut. Caranya yaitu dengan menggenggam payudara seperti membentuk huruf C, kemudian pijat ke arah puting dengan gerakan seperti menggulung.

Bagaimana cara mengetahui let-down reflex bekerja dengan baik?

Dilansir dari hellosehat.com, ada beberapa tanda-tanda ketika let-down reflex bekerja dengan baik:

  1. Kemungkinan terjadi kram pada rahim diminggu-minggu pertama mulai menyusui
  2. Si Kecil akan mengalami kenaikan berat badan setiap bulan
  3. Bunda mungkin akan merasakan haus saat menyusui
  4. Si Kecil menelan lebih sering
  5. Saat menyusui, bunda akan merasa tenang dan rileks bahkan merasa kantuk
  6. ASI menetes dari payudara satunya yang sedang tidak dihisap
  7. Kemungkinan akan ada sensasi panas atau kesemutan pada payudara
  8. Adanya pola perubahan hisapan bayi, yang tadinya hisapan pendek menjadi lebih panjang dan lama

Referensi

Artikel Terkait

CONNECT WITH US

Follow Us

Copyright 2019. Sahabatlactamond.com